Syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasul yang dijadikan sebagai sumber peri hidup seseorang, dilaksanakan sesuai petunjuk secara ugeran atau apa adanya, tanpa dikurang dan ditambah, merupakan sebuah fenomena dahsyat yang dapat kita jumpai pada masa awal lahirnya Islam di Jazirah Arab dan sekitarnya. Dengan formula tersebut telah lahir tokoh-tokoh Islam dari berbagai bidang, baik militer, ilmu pengetahuan, perdagangan, seni, dsb.
Dalam tulisan ini saya tidak akan berpanjang lebar tentang sejarah atau hal-hal lain yang bersifat tekstual, akan tetapi tulisan ini merupakan percikan-percikan kecil berupa kesan terhadap kemulyaan Syariat Islam.
Syariat Islam Menjadikan Pelakunya Selalu Berada dalam Kondisi Terbaik.
Kita lembari sejenak sejarah kehidupan para sahabat Rasulullah, mereka yang hanya mengandalkan al-Quran dan sunnah saja, mereka merupakan tokoh-tokoh terkemuka yang telah mengubah dunia. Lantas bagaimana dengan kita? Jika boleh dibandingkan, kita sekarang belum dapat menyamai satu persenpun prestasi mereka. Mereka telah mengubah dunia menjadi jauh lebih baik, lebih maju, dan beradab, sementara kita hanya mampu menjadi pengikut saja. Beruntung jika kita menjadi pengikut perilaku Rasulullah dengan menerapkan al-Quran dan Sunnah, kebanyakan dari kita sekarang justru menjadi pengikut ajaran, gaya hidup, dan perilaku ummat lain yang sebenarnya memusuhi Islam.
Yang saya maksud musuh Islam ialah kekafiran, atau penentangan terhadap kebenaran syariat.
Sederhana saja, sebuah kenyataan bahwa ilmu kita lebih banyak didominasi tentang urusan keduniaan daripada ilmu agama. Bagaimana tidak, waktu luang kita kebanyakan habis untuk tayangan TV, koran, atau berinternet yang sifatnya duniawi, sedangkan membaca al-Quran hanya dibaca saja tanpa mau mempelajari maksud ayat-ayat yang sedang dibaca, bagaimana Petunjuk bisa didapat jika demikian?
Kita sudah ber-Sahadat, Sholat, Puasa, Zakat, bahkan menunaikan ibadah Haji, apakah sudah benar-benar diamalkan berdasarkan ilmunya? Atau hanya mengikut tanpa ilmu? (taqlid buta)
Penerapan syariat berdasarkan ilmu yang benar menurut al-Quran dan Sunnah sudah selayaknya menjadi prioritas yang harus dilakukan setiap Muslim agar mampu mengimbangi prestasi yang dimiliki generasi Sahabat, yaitu mengamalkan agama sesuai dengan ajaran yang haq agar dapat "mengubah dunia", menjadi Pioneer Kebenaran bukan Pengikut Kebathilan.